tips@iain-jember.ac.id

Kuliah Tamu Prodi Tadris IPS UIN KHAS Jember Angkat Tema Kearifan Lokal dan Budaya Mentawai

Home >Berita >Kuliah Tamu Prodi Tadris IPS UIN KHAS Jember Angkat Tema Kearifan Lokal dan Budaya Mentawai
Diposting : Jumat, 10 Oct 2025, 03:18:22 | Dilihat : 44 kali
Kuliah Tamu Prodi Tadris IPS UIN KHAS Jember Angkat Tema Kearifan Lokal dan Budaya Mentawai


Jember, 8 Oktober 2025 – Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember sukses menggelar kegiatan Kuliah Tamu dengan tema “Kearifan Lokal dan Kehidupan Budaya dalam Perspektif Antropologi, Pendidikan IPS, dan Etnopedagogi: Membaca Kehidupan Budaya Masyarakat Kepulauan Mentawai.” Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 8 Oktober 2025 secara hybrid, bertempat di Ruang Rapat Gedung FTIK lantai 2 serta melalui platform Zoom Meeting serta live Live Stream IPS UIN KHAS JEMBER - YouTube

Acara resmi dibuka oleh Ketua Jurusan Dr. Hartono, M.Pd, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya penguatan pemahaman terhadap kearifan lokal dan keragaman budaya Nusantara. Menurutnya, kedua aspek tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran IPS yang bermakna, kontekstual, dan berkarakter.

Kuliah tamu ini menghadirkan Robert Choi Sudarno Sakombatu, M.Pd., dari Kelompok Solidaritas Tato Mentawai sekaligus pengelola Pondok Literasi Uma Baca Jaraik di Sipora, Kepulauan Mentawai, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Robert Choi menjelaskan f

Dalam paparannya, Robert Choi menjelaskan secara mendalam tentang filsafat hidup masyarakat Mentawai yang sangat menjunjung keseimbangan antara manusia dan alam. Melalui sistem kepercayaan Arat Sabulungan, masyarakat Mentawai meyakini bahwa setiap unsur alam memiliki roh dan kekuatan spiritual yang harus dihormati.

“Bagi orang Mentawai, hutan bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga ruang spiritual. Mereka menjaga alam bukan karena aturan, melainkan karena keyakinan bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan,” ungkap Robert Choi.

Ia juga menyoroti peran penting Sikerei, yaitu tokoh adat sekaligus penyembuh tradisional yang memegang peranan penting dalam upacara adat dan kehidupan sosial masyarakat. Sikerei tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin ritual, tetapi juga penjaga nilai-nilai moral dan pengetahuan budaya Mentawai.

Selain itu, Robert memperkenalkan tradisi Tik’tik atau tato tubuh yang menjadi ciri khas masyarakat Mentawai. Ia menjelaskan bahwa tato tidak hanya berfungsi estetis, tetapi juga sarat makna simbolik. Tato menggambarkan identitas, kedewasaan, serta hubungan spiritual antara manusia, leluhur, dan alam.

“Tato bagi masyarakat Mentawai bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perjalanan hidup, status sosial, dan penghormatan terhadap leluhur,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Robert juga mengulas beragam aspek seni, kerajinan, dan tradisi kehidupan sehari-hari, mulai dari pembuatan tuddukat (alat komunikasi kayu), tarian turuk yang menggambarkan gerak hewan di hutan, hingga kebiasaan peruncingan gigi (masirauru sot) yang melambangkan keindahan dan kehormatan.

Ia menegaskan bahwa di balik semua praktik budaya itu tersimpan nilai-nilai pendidikan dan etnopedagogi yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran IPS. Nilai seperti kerja sama, harmoni, dan penghormatan terhadap alam merupakan bentuk nyata pendidikan karakter yang lahir dari kearifan lokal.

“Etnopedagogi bukan sekadar mengenalkan budaya, tapi bagaimana kita belajar dari budaya untuk menumbuhkan karakter yang kuat dan berakar pada nilai-nilai lokal,” ujarnya.

Melalui penjelasan yang kaya dan reflektif, Robert Choi mengajak mahasiswa Tadris IPS UIN KHAS Jember untuk melihat budaya lokal sebagai sumber pembelajaran sosial yang kontekstual dan bermakna. Ia berharap para calon pendidik IPS dapat menanamkan nilai-nilai budaya Nusantara kepada peserta didik agar lebih mencintai dan menghargai warisan leluhur bangsa.

Kegiatan ini dipandu oleh Fiqu R. Mafar, M.IP., selaku Koordinator Prodi Tadris IPS, yang juga bertugas sebagai moderator. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa kuliah tamu ini merupakan bentuk konkret penerapan pembelajaran berbasis etnopedagogi, yang mengaitkan secara langsung antara budaya lokal dengan praktik pendidikan.

Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti kegiatan, baik secara langsung di lokasi maupun secara daring. Melalui sesi diskusi dan tanya jawab interaktif, peserta diajak menelaah nilai-nilai sosial budaya masyarakat Mentawai yang dapat diadaptasi sebagai bahan ajar IPS, khususnya untuk memperkuat Profil Pelajar Pancasila.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Tadris IPS UIN KHAS Jember dapat memperluas wawasan antropologis dan etnopedagogis dalam memahami keragaman budaya Indonesia, serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan berkarakter.

;