Dosen Tadris IPS FTIK UIN KHAS Jember Gelar Pengabdian Masyarakat melalui Pelatihan Hidroponik di Pesantren Darul Ulum Mayang

JEMBER — Dosen Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pelatihan urban farming berbasis hidroponik di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember. Kegiatan bertajuk “Pelatihan Urban Farming Berbasis Hidroponik sebagai Upaya Penguatan Eco-Pesantren di Pondok Pesantren Darul Ulum Kecamatan Mayang Kabupaten Jember” ini berlangsung mulai 5 September hingga 20 Oktober.

 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat melalui program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Dalam pelaksanaannya, dosen Tadris IPS FTIK UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember mendorong pengembangan keterampilan budidaya sayuran sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan di lingkungan pesantren.

 

Pemilihan hidroponik didasarkan pada potensinya sebagai alternatif budidaya tanaman pada lahan terbatas. Sistem ini memungkinkan tanaman dibudidayakan tanpa menggunakan tanah sebagai media utama, dengan pengelolaan air dan nutrisi yang sesuai kebutuhan tanaman. Bagi pesantren, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana pemanfaatan ruang yang tersedia sekaligus media pembelajaran praktis bagi santri.

 

Mengembangkan Pertanian Produktif di Lingkungan Pesantren

Pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki potensi untuk mengembangkan pendidikan lingkungan melalui kegiatan sehari-hari. Pemanfaatan lahan untuk budidaya tanaman dapat menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik nyata.

 

Melalui pelatihan hidroponik, peserta diperkenalkan pada konsep urban farming, prinsip dasar hidroponik, kebutuhan tanaman, media tanam, pengelolaan nutrisi, dan perawatan tanaman. Materi tersebut diarahkan agar peserta memahami bahwa kegiatan bercocok tanam tidak hanya berkaitan dengan produksi sayuran, tetapi juga dengan pengelolaan sumber daya dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

 

Program ini juga diarahkan untuk mendukung penguatan eco-pesantren, yaitu upaya mengintegrasikan kepedulian lingkungan ke dalam aktivitas pendidikan dan kehidupan pesantren. Dalam konteks tersebut, hidroponik dapat menjadi sarana untuk mengenalkan pemanfaatan lahan secara produktif, pemeliharaan tanaman, penggunaan sumber daya secara bijak, dan kerja sama dalam mengelola lingkungan.

 

Kegiatan budidaya juga memberikan ruang bagi santri untuk belajar melalui pengalaman langsung. Proses menyiapkan alat, merawat tanaman, mengamati pertumbuhan, dan menjaga kebersihan area budidaya dapat menjadi bagian dari pembiasaan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

 

Pelatihan Dilaksanakan melalui Materi dan Praktik Langsung

Pelaksanaan kegiatan berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan, penyampaian materi, praktik budidaya hidroponik, observasi keterampilan, hingga evaluasi dan penyusunan rencana tindak lanjut.

 

Pada tahap awal, tim pelaksana mengidentifikasi pengetahuan, pengalaman, minat, serta kebutuhan peserta terkait hidroponik. Identifikasi ini diperlukan untuk mengetahui potensi yang dapat dikembangkan dan aspek teknis yang masih membutuhkan penguatan.

 

Hasil angket awal dari 13 responden memperoleh indeks 78,82%. Salah satu temuan penting adalah tingginya kebutuhan peserta terhadap pengetahuan mengenai perawatan tanaman, dengan indeks 96,92%. Ketersediaan ruang atau lahan yang dapat dimanfaatkan juga memperoleh penilaian tinggi, yaitu 93,85%. Sementara itu, pengalaman melihat atau mencoba hidroponik memperoleh indeks 58,46%.

 

Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat potensi untuk mengembangkan hidroponik di pesantren, tetapi peserta masih memerlukan pembelajaran praktis mengenai teknik budidaya. Karena itu, pelatihan tidak hanya berfokus pada penyampaian teori, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada peserta.

 

Dalam praktiknya, Dosen Tadris IPS berkolaborasi dengan Bapak Akhmad Khoirun Nasri, SP praktisi Hidroponik mendampingi peserta mempelajari persiapan alat dan bahan, penyiapan media tanam, persiapan bibit, perakitan sistem hidroponik, pemindahan bibit, pengelolaan air dan nutrisi, serta perawatan tanaman. Tahapan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengenal proses budidaya secara lebih terstruktur.

 

Praktik bersama juga mendorong kerja sama dalam menyelesaikan tugas. Peserta perlu memahami urutan pekerjaan, menggunakan peralatan dengan tepat, dan memperhatikan kondisi tanaman selama proses budidaya. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun keterampilan dasar yang diperlukan untuk mengelola hidroponik secara berkelanjutan.

 

Hasil Evaluasi Menunjukkan Respons Positif

Evaluasi terhadap praktik budidaya memperoleh indeks 76,40%. Indikator persiapan alat dan bahan mencapai 92%, sedangkan kerja sama peserta memperoleh 88%. Penyiapan media tanam serta pengelolaan air dan nutrisi masing-masing mencapai 84%.

 

Meski demikian, beberapa keterampilan masih perlu diperkuat. Kemampuan mengidentifikasi masalah sederhana pada tanaman memperoleh indeks 56%. Sementara itu, keterampilan memindahkan bibit, merakit sistem, dan menyiapkan larutan nutrisi masing-masing memperoleh indeks 68%.

 

Hasil ini menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pendampingan berikutnya. Peserta perlu memperoleh kesempatan berlatih kembali, khususnya dalam mengidentifikasi gangguan pertumbuhan, menyiapkan nutrisi dengan tepat, dan melakukan pemindahan bibit tanpa merusak tanaman.

 

Evaluasi pelaksanaan kegiatan yang diisi oleh 12 responden memperoleh indeks 84,58%. Aspek kejelasan materi dan manfaat praktik dalam membantu pemahaman masing-masing memperoleh indeks 90%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta memberikan penilaian positif terhadap pelaksanaan pelatihan.

 

Selain itu, angket sikap dan kesiapan penerapan hidroponik yang diisi oleh 10 responden memperoleh indeks 85,60%. Kepedulian terhadap kebersihan pesantren memperoleh rata-rata 5 dari skala 5, sedangkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan persepsi terhadap manfaat hidroponik masing-masing memperoleh rata-rata 4,60 dari skala 5.

 

Angket dukungan terhadap keberlanjutan program juga memperoleh hasil positif, dengan indeks 89,08%. Kesediaan mengajak pihak lain mengembangkan hidroponik mencapai indeks 98%. Dukungan untuk mengintegrasikan kegiatan hidroponik ke dalam program pesantren dan memanfaatkan hasil panen sebagai sarana edukasi pangan sehat masing-masing mencapai 96%.

 

Hasil evaluasi tersebut memperlihatkan adanya penerimaan positif terhadap kegiatan dan dukungan untuk melanjutkan pengembangan hidroponik. Namun, hasil ini terutama menggambarkan penilaian, sikap, dan kesiapan peserta. Peningkatan pengetahuan maupun keterampilan secara kuantitatif masih memerlukan pengukuran sebelum dan sesudah pelatihan menggunakan instrumen yang sama.

 

Hidroponik sebagai Bagian dari Penguatan Eco-Pesantren

Melalui kegiatan ini, dosen Tadris IPS FTIK UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember berupaya mendorong agar hidroponik tidak berhenti sebagai praktik budidaya, tetapi dapat dikembangkan sebagai bagian dari pendidikan lingkungan di pesantren.

 

Kegiatan hidroponik berpotensi diintegrasikan dengan pembelajaran mengenai pemanfaatan sumber daya, kebutuhan pangan, tanggung jawab sosial, dan pelestarian lingkungan. Peserta dapat belajar memahami hubungan antara ketersediaan lahan, kebutuhan tanaman, penggunaan air, serta pentingnya perawatan yang teratur.

 

Pengembangan program juga dapat diarahkan pada pemanfaatan hasil panen untuk mendukung edukasi pangan sehat di lingkungan pesantren. Apabila pengelolaan telah berjalan dengan baik, hasil budidaya dapat dievaluasi lebih lanjut untuk mengetahui potensinya dalam membantu memenuhi kebutuhan sayuran pesantren.

 

Meski demikian, manfaat terhadap kemandirian pangan dan ekonomi belum dapat disimpulkan dari hasil evaluasi yang tersedia. Untuk menilai manfaat tersebut, diperlukan pencatatan jumlah tanaman yang tumbuh, volume panen, pemanfaatan hasil panen, biaya operasional, dan penghematan belanja apabila hasil budidaya digunakan untuk konsumsi pesantren.

 

Dengan pencatatan tersebut, pengelola dapat mengetahui perkembangan program berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan minat atau persepsi peserta.

 

 

Perlu Pendampingan dan Pengelolaan Berkelanjutan

Kegiatan pengabdian yang berlangsung dari 5 September hingga 20 Oktober ini menjadi langkah awal dalam memperkenalkan dan mengembangkan hidroponik di Pondok Pesantren Darul Ulum. Agar program dapat terus berjalan, diperlukan keterlibatan aktif pengelola pesantren dan santri dalam perawatan tanaman.

 

Beberapa tindak lanjut yang dapat dilakukan meliputi pembentukan tim pengelola hidroponik, penyusunan jadwal perawatan, pembagian tanggung jawab, pencatatan kebutuhan nutrisi, serta pemantauan pertumbuhan tanaman. Pendampingan teknis juga perlu dilanjutkan, terutama pada aspek yang masih membutuhkan penguatan berdasarkan hasil observasi.

 

Pengelola pesantren dapat mengintegrasikan kegiatan ini ke dalam program pendidikan lingkungan atau aktivitas pembelajaran yang relevan. Dengan demikian, keberlanjutan hidroponik tidak hanya bergantung pada pelatihan awal, tetapi didukung oleh sistem pengelolaan yang jelas.

 

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, dosen Program Studi Tadris IPS FTIK UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember berharap praktik hidroponik dapat menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang menghubungkan pendidikan, keterampilan, dan kepedulian lingkungan. Pengembangan secara bertahap dan terukur diharapkan dapat mendukung penguatan eco-pesantren di Pondok Pesantren Darul Ulum, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember.

Tags: Pendidikan Lingkungan Ekonomi Sosial Inovasi Berita Terkini
Bagikan: